Question & Answer: Terjadinya Perdagangan Perempuan

Friday , 03 July 2015

Bagaimana terjadinya perdagangan perempuan?

Perdagangan perempuan bisa terjadi di dalam negeri maupun di lintas negara. Proses terjadinya praktek perdagangan perempuan dimulai dari tempat tinggal asal perempuan. Biasanya para pelaku, calo atau penyalur terlibat dengan aparat di desa dalam praktik menjual dan memperdagangkan perempuan untuk mendapatkan keuntungan uang maupun lainnya.

Para pelaku ini umumnya berasal dari wilayah setempat dan berhubungan, baik langsung atau tidak langsung, dengan agen tenaga kerja, baik yang resmi maupun tidak dan anggota Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang datang ke tempat asal perempuan yang akan dieksploitasi ke desa-desa. Banyak dari perempuan ini ditipu dan dijanjikan akan diberi pekerjaan dengan gaji yang lumayan oleh pelaku.

Bentuk perdagangan perempuan beragam, mulai dari pelacuran/pekerja seks, pekerja rumah tangga/pabrik yang tidak dibayar, kawin paksa/kontrak, pengemis, industri pornografi, dan penjualan organ tubuh. Perdagangan perempuan menimbulkan efek luar biasa bagi perempuan yang diperdagangkan. Mereka mendapat kekerasan. Perdagangan perempuan melibatkan aktor-aktor pelaku yang membuat perempuan terjerat dalam perdagangan perempuan.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Wanita dan Jender Universitas Indonesia, menunjukkan adanya keterlibatan perempuan dalam jaringan pengedaran narkotika dan perdagangan perempuan. Beberapa kisah hidup perempuan Indonesia menunjukkan pola yang sama, yaitu terjebak dalam suatu perangkat hubungan personal, berupa pacaran bahkan perkawinan, atau terjerat hutang. Mereka yang masuk ke dalam perangkap pacaran atau perkawinan, tidak mengetahui sebelumnya bahwa mareka akan dijadikan pengedar narkotika oleh pasangan-pasangannya. Keberadaan perempuan Indonesia dalam pengedaran narkotika bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja.

Perempuan tidaklah sendirian, dan keberadaan mereka di sana adalah berkaitan dengan ralasinya dengan laki-laki, baik sebagai pacara, maupun suami, saudara ipar, atau teman. Relasi yang timpang antara perempuan dan laki-laki, yang dilekati oleh kekerasan, menyebabkan perempuan “terjebak” ke dalam perangkap yang membuat mereka tidak bisa lari. Lebih tepatnya, dikorbankan.

YLBHI dan AusAID. Panduan Bantuan Hukum di Indonesia. Jakarta: Sentralisme Production. 2006. 123-124

Back to top