Question & Answer: Memberikan Kuasa

Thursday , 02 April 2015

Bagaimana memberikan kuasa?

Pasal 1792 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) mengatur mengenai pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang membeirkan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan. Beritik tolak dari pengertian itu, dalam perjanjian kuasa terdapat pihak Pemberi Kuasa dan Penerima Kuasa, yang sesuatu untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

 Pemberi Kuasa melimpahkan perwakilan atau mewakilkan kepada Penerima Kuasa untuk mengurus kepentingannya, sesuai dengan fungsi dan kewenangan yang ditentukan dalam surat kuasa. Dengan demikian, Penerima Kuasa, bertindak mewakili Pemberi Kuasa terhadap pihak ketiga untuk dan atas nama Pemberi Kuasa. Karenanya, Pemberi Kuasa bertanggungjawab atas segala perbuatan Penerima Kuasa, sepanjang perbuatan yang dilakukan Penerima Kuasa tidak melebihi wewenang yang diberikan oleh si Pemberi Kuasa.

 Berakhirnya kuasa dapat dilakukan dengan melalui Pemberi Kuasa menarik kembali kuasa, salah satu pihak meninggal dunia, atau Penerima Kuasa melepas kuasa yang diterimanya. Lalu bagaimana memberikan kuasa di depan pengadilan?

Kuasa secara lisan dapat diberikan di depan Ketua Pengadilan yang bersangkutan. Kemudian Ketua Pengadilan akan memberikan catatan atas adanya pemberian kuasa lisan tersebut. Sedangkan Surat Kuasa Khusus hanya menyebut syarat pokok yang tertulis atau akta yang disebut surat kuasa khusus.

 Syarat kuasa khusus yang sah adalah yang telah sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) No. 6/1994, yaitu menyebut dengan jelas dan spesifik surat kuasa, untuk berperan di pengadilan, menyebut kompetensi relatif, menyebut identitas dan kedudukan para pihak, menyebut secara ringkas dan konkret pokok dan obyek sengketa yang diperkarakan.

 Surat kuasa khusus yang ditanda tangani pemberi kuasa, atau diberikan cap jempol pemberi kuasa, di atas materai seharga Rp. 6.000 (enam ribu rupiah), kemudian dilakukan legalisir pada kantor panitera pengadilan yang bersangkutan tempat perkara itu dimintakan putusan.

Sumber: YLBHI dan AusAID. Panduan Bantuan Hukum di Indonesia. Jakarta: Sentralisme Production. 2006. 51-52

Back to top